MEWUJUDKAN KONAWE SELATAN SEBAGAI LUMBUNG TERNAK SAPI NASIONAL
Oleh : drh. Agus Karyono, M.Si
Kepala Seksi Karantina Hewan
Balai Karantina Pertanian Kelas II Kendari

Konsumsi per kapita rakyat Indonesia untuk protein hewani terutama daging sapi masih rendah. Untuk itu, pemerintah senantiasa terus mendukung, mendorong, dan meningkatkan produksi dan produktivitas sapi potong dan komponen pendukungnya. Selain daya beli yang belum cukup kuat, sebagian masyarakat masih menganggap bahwa daging sapi adalah makanan yang mahal dan mewah. Barangkali bagi sebagian rakyat kita, mengonsumsi daging sapi hanya dilakukan pada momen Idul Kurban saja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menunjukkan konsumsi daging sekitar 5,213 kg/kapita/tahun. Kebutuhan daging nasional sekitar 604 ribu ton, sedangkan kita baru mampu menyediakan kurang lebih 354 ribu ton. Sisanya sekitar 249 ribu ton dipenuhi dari impor berupa sapi bakalan (feeder) dan daging beku (frozen meat). Ini merupakan tantangan sekaligus peluang kita untuk secara berdikari memenuhi kebutuhan sendiri. Konsumsi protein hewani seperti daging sapi, daging ayam, telur, susu, dan ikan yang tinggi akan linier dengan kemajuan suatu bangsa karena di dalam komponen tersebut terkandung nutrisi protein tinggi yang dibutuhkan tubuh untuk membantu kecerdasan otak.

.

Potensi Ternak dan Sinergitas

Bupati Konawe Selatan (Konsel), Surunuddin Dangga, ST, MM, Senin, 30 Oktober 2017 dalam acara bulan bakti peternakan di Kecamatan Tinanggea dengan tema “Wujudkan Konsel kawasan 100 ribu sapi mendukung desa maju. Konsel hebat menuju lumbung daging nasional” menyampaikan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan pertanian di Konsel harus selalu bersinergi dengan sapi. Baik itu perkebunan sawit harus bersinergi dengan sapi, lahan kedelai dan jagung harus bersinergi dengan sapi.

Ia menyadari potensi wilayah dan warganya maka pembangunan pertanian dan peternakan menjadi salah satu prioritas. Saat ini Konsel merupakan lumbung ternak sapi terbesar di Sulawesi Tenggara dengan jumlah 65.434 ekor dari total populasi se-Sultra 331.958 ekor (Data Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra 2017). Secara geografis, keunggulan Konsel yang pertama adalah padang rumput yang masih luas. Ini merupakan hal yang paling krusial karena pemeliharaan sapi membutuhkan lahan luas dan rumput yang banyak dan bervariasi. Varietas rumput yang unggul sebagai sumber hijauan makanan ternak seperti king grass, indigofera, dan rumput gajah mutlak harus didatangkan karena rumput ini belum ada. Keunggulan yang kedua yaitu warga masyarakat yang rata-rata transmigran (kebanyakan dari Pulau Jawa dan Bali) sudah terbiasa memelihara sapi terutama sapi bali. Sejak turun-temurun mereka telah memiliki budaya memelihara sapi sebagai usaha sampingan selain pekerjaan pokoknya bercocok tanam dan menganggap sapi sebagai “rojo koyo” atau tabungan yang sewaktu-waktu mudah dijual. Ini sungguh modal yang luar biasa.

.

Permasalahan-permasalahan

Di samping keunggulan-keunggulan tadi, tentunya masih banyak juga permasalahan-permasalahan dalam mewujudkan Konsel sebagai lumbung sapi. Masalah-masalah tersebut antara lain masih tingginya pemotongan sapi betina produktif, belum adanya Rumah Potong Hewan (RPH) sapi yang terstandarisasi dan belum ada pasar ternak. Pemotongan betina produktif secara nasional memang harus diakui masih tinggi dan terjadi secara masif. Ini bukan tanpa alasan. Sebagai contoh, angka kelahiran sapi di Sultra itu ternyata 74% pedet betina sehingga ini berimplikasi dengan stok sapi yang ada. Kemudian rasio sapi betina-jantan yang disembelih di Konsel 51:39. sementara idealnya adalah 30:70. Sosialisasi secara terus-menerus mengenai ancaman pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda maksimal 300 juta dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 junto UU Nomor 41 tahun 2014 pasal 18 ayat (4) yang mengatakan bahwa “Setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif” juga harus masif dilakukan. Kemudian terkait RPH sapi yang terstandarisasi ini juga mutlak harus ada.

Pemotongan sapi secara tradisional tidak boleh lagi dilakukan di rumah-rumah, di pasar-pasar, di pinggir-pinggir sungai agar mitigasi risiko penyakit-penyakit yang bersumber dari hewan dapat dikendalikan sehingga potensi menularkan ke manusia (zoonosis) dapat dicegah. Penyedian daging sapi yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) merupakan hal yang tidak bisa diabaikan lagi. Saat ini pola pemasaran ternak tidak dilakukan di pasar hewan atau pasar ternak tetapi para pembeli (pedagang) yang berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Kalimantan dan Maluku Utara datang langsung ke peternak. Dengan tidak adanya pasar ternak maka potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hilang. Pemerintah Daerah Konsel perlu segera menyediakan semua sarana-prasarana itu.

.

Dukungan Pemerintah Pusat

Selama ini tidak banyak Kepala Daerah yang konsen terhadap pembangunan peternakan dalam meningkatkan taraf hidup dan ekonomi warganya, maka sudah seyogianya pemerintah pusat dalam hal ini Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dan Badan Karantina Pertanian selalu mendukung segala upaya yang dilakukan Pemda Konsel ini untuk mewujudkan populasi 100 ribu ekor sapi dan ikut berkontribusi dalam program swasembada daging sapi nasional.

Langkah pemerintah dalam meningkatkan populasi sapi seperti yang disampaikan drh. I Ketut Diarmita, M.P. selaku Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pada acara tersebut yaitu memberi bantuan sebanyak 300 ekor sapi bibit jenis Brahman Cross (BX) kepada Konsel pada tahun 2018. Sapi ini merupakan jenis sapi yang unggul baik dari segi produksi dan produktivitasnya.

Keunggulannya antara lain tahan panas dan kering (cocok dengan kondisi geografis Konsel), tahan ektoparasit (kutu dan caplak), kemampuan beradaptasi yang tinggi, sifat keindukannya bagus, kemampuan reproduksi dengan angka kelahiran 81,2%. Oleh karena itu, manajemen pemeliharaanya pun harus dilakukan secara optimal agar potensi genetiknya maksimal. Contohnya pakan dan varietas rumput-rumputan seperti di atas harus disediakan terlebih dahulu. Jangan sampai ketika sapi datang pakan rumput yang berkualitas belum tersedia.

Dukungan yang lain adalah Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang sedang dan telah berjalan. Kabupaten Konsel memiliki 4.411 ekor target sapi bunting dengan realisasi mencapai 3.221 ekor (73%) dan keberhasilan kelahiran pedet sebanyak 912 ekor (Sumber: Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra 2017). Dukungan dari Karantina adalah memastikan sapi-sapi BX yang akan didatangkan dari luar negeri tersebut bebas dari penyakit menular seperti Brusellosis dan Johne’s Disease dengan menyediakan dan melakukan serangkaian pemeriksaan di laboratorium yang telah terakreditasi. Sinergitas, keberlanjutan, dan kerjasama antar pemangku kepentingan (stakeholder) harus senantiasa dilakukan untuk mewujudkan swasembada daging nasional 2026 dengan Konsel menjadi salah satu lumbung ternak sapi nasional.

.

Tulisan ini dimuat pada rubrik Opini di harian Kendari Pos pada hari Selasa, 7 November 2017.

 

Ilustrasi sapi Brahman Cross (sumber: polled-brahmans.com)

Comments

comments