Penyakit Virus Mosaik Kedelai (Soybean mosaic virus) di Sulawesi Tenggara
Oleh : R. Dewi Ratna Wulan, S.P.
(POPT Ahli Pertama pada Balai Karantina Pertanian Kelas II Kendari)

Kedelai merupakan salah satu tanaman penting di Indonesia yang menjadi sumber protein nabati. Permintaan akan kedelai terus bertambah setiap tahun tetapi produksinya masih kurang. Kebutuhan kedelai tiap tahunnya diperkirakan sebanyak 2,5 juta ton/tahun, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 800.000 ‒ 900.000 ton (Balitkabi, 2013). Salah satu faktor yang dihadapi dalam usaha meningkatkan produksi kedelai adalah adanya infeksi virus mosaik kedelai atau Soybean mosaic virus (SMV). Virus mosaik kedelai (SMV) merupakan patogen tular benih dan penyebarannya di Sulawesi Tenggara masih terbatas. Hal ini disebabkan kedelai jarang ditanam oleh petani. Namun, sejak tahun 2014 seiring dengan Program Upaya Khusus dari Kementerian Pertanian untuk mencapai swasembada kedelai, maka hampir semua kabupaten di Sulawesi Tenggara melakukan penanaman kedelai. Hal ini berpotensi menyebarnya infeksi SMV karena benih yang ditanam petani merupakan benih yang berasal dari luar Sulawesi Tenggara.

Sampai saat ini belum banyak laporan mengenai penyakit SMV di Sulawesi Tenggara. Taufik dkk. (2015) pertama kali melaporkan temuan adanya gejala mosaik kedelai di Sulawesi Tenggara tetapi hanya sebatas temuan di Kebun Percobaan. Kemudian, Wulan (2017) melaporkan adanya infeksi penyakit mosaik kedelai (SMV) di lapang yaitu di Kabupaten Konawe Selatan, Konawe, dan Kolaka dengan kejadian penyakit di lapang sebesar 39,77‒64,00%.

Gejala SMV tergantung pada beberapa faktor seperti strain virus, genotipe inang, umur tanaman pada saat infeksi, dan kondisi lingkungan. Tanaman yang terinfeksi SMV umumnya menunjukkan gejala seperti tanaman menjadi berkerut, kerdil, daun melengkung, vena berwarna hijau gelap, daerah intervenal hijau terang, deformasi bunga, nekrosis, lesio lokal kadang-kadang nekrotik, dan nekrosis sistemik (ICTVdB Manajemen, 2006). Gejala SMV ini dapat terjadi pada suhu di atas 30° C (Hill, 1999).

Di lapang, infeksi SMV memiliki gejala khas yaitu permukaan daun tidak rata, daun mengecil, tepi daun melengkung, tulang daun menebal, klorosis, mosaik sampai ke daun yang paling muda dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun, daun melepuh dengan warna hijau tua dan melengkung ke dalam dan ke luar, pemucatan tulang daun, dan mosaik sepanjang tulang daun (Wulan, 2017 dan Inayati, 2015). SMV juga dapat terbawa sampai ke biji, menyebabkan biji berwarna belang coklat berbentuk radial. Infeksi SMV pada benih menyebabkan bintik‒bintik dan ukuran benih lebih kecil sehingga menurunkan kualitas benih (Saleh, 2007). Infeksi SMV menghasilkan gejala benih mottle (burik) dan non-mottle. Oleh karena itu benih non-mottle tidak dapat dijadikan jaminan bebas SMV.

Gambar 1. Gejala khas infeksi virus mosaik kedelai pada daun kedelai

Infeksi virus pada benih dapat menyebabkan viabilitas atau daya tumbuh benih rendah. Virus ini akan aktif setelah benih disemaikan dan menyebabkan tanaman terinfeksi. SMV dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 35−100% dalam kondisi infeksi alami tergantung dari strain virus, ketahanan genotipe, dan waktu infeksi.

Di lapang, SMV terutama ditularkan dan disebarkan oleh serangga vektor. Wulan (2017) melaporkan bahwa temuan serangga kutu daun Aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae) di pertanaman kedelai di Kabupaten Konawe Selatan memberikan informasi bahwa kutu daun A. gossypii (Hemiptera: Aphididae) di Sulawesi Tenggara dapat menularkan SMV. Hal ini sesuai dengan laporan sebelumnya yang menyebutkan bahwa penyakit mosaik kedelai dapat ditularkan non persisten oleh serangga vektorA. gossypii (Hemiptera: Aphididae) (Noveriza dkk., 2012).

Pengelolaan infeksi penyakit SMV dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan cara melakukan pembongkaran atau memusnahkan tanaman yang sakit, penggunaan varietas tahan serta mengendalikan vektor yang menjadi penyebab penyebaran virus tersebut pada tanaman budidaya. Selain itu, dikarenakan penyakit SMV merupakan penyakit terbawa benih, maka pengelolaan penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan benih yang bersertifikat (Andayanie, 2011).

Daftar Pustaka

[Balitkabi] Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2013. Varietas unggul kedelai. http://www.litbang.deptan.go.id/varietas. Diakses tanggal 5 Februari 2018.

Andayanie, W.R. 2011. Penyakit mosaik kedelai dan pengelolaan Soybean mosaic virus terbawa benih. Prosiding seminar hasil penelitian tanaman aneka kacang dan umbi. Hal. 335−347.

Hill, J.H. 1999. Soybean Mosaic Virus. In Compendium of Soybean Diseases, (4th edn). Editor : Hartman GL, Sinclair JB, Rupe JC. Halaman 70–71.Minnesota, USA : American Phytopathological Society.

ICTVdB Management. 2006. Soybean mosaic virus. In ICTVdB – The UniversalVirus Database, version 4, Editor : Büchen-Osmond, C. New York, USA :Columbia University.

Inayati, A. 2015. Penyakit-penyakit virus pada kedelai. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/?p=4325. Diakses tanggal 20 Februari 2018.

Noveriza, R., G. Suastika, S.H. Hidayat, U. Kartosuwondo. 2012. PenularanPotyvirus penyebab penyakit mosaik pada tanaman nilam melalui vektor Aphis gossypii. J Fitopatologi 8 (3): 65-72.

Saleh, N. 2007. Sistem produksi kacang-kacangan untuk menghasilkan benih bebas virus. J Iptek Tanaman Pangan 2 (1): 56-78.

Taufik, M., H.S. Gusnawaty, A. Hasan, M.D. Rahim. 2015. Mosaic disease : as a challenge for soybean production in Southeast Sulawesi. Proceeding 2nd International Conference on Sustainability Development. 28 February-1 March 2015. Bali. Indonesia. Hal.117-124.

Wulan, R.D.R. 2017. Deteksi Soybean mosaic virus pada tanaman kedelai dengan teknik ELISA di Sulawesi Tenggara. Tesis. Universitas Haluoleo : Kendari.

Comments

comments