KAJIAN PENETAPAN TOKSOPLASMOSIS SEBAGAI SALAH SATU HAMA DAN PENYAKIT HEWAN KARANTINA (HPHK)

Oleh: drh. Rian Hari Suharto, M.Sc.

Medik Veteriner Pertama
Balai Karantina Pertanian Kelas II Kendari
Jl. Muhammad Yamin, Puuwatu, Kendari, Sulawesi Tenggara 93114

ABSTRAK

Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh parasit protozoa Toxoplasma gondii. Penyakit ini telah lama ditemukan di berbagai area di Indonesia, baik pada manusia maupun pada hewan. Dalam perspektif karantina, toksoplasmosis tidak ditetapkan sebagai Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) yang wajib dicegah untuk masuk ke, tersebar di, dan keluar dari wilayah negara Republik Indonesia. Hal ini menyebabkan upaya pencegahan toksoplasmosis tidak berjalan dengan maksimal. Berdasarkan kajian terhadap kriteria penetapan HPHK, toksoplasmosis merupakan penyakit hewan yang tidak memiliki potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, telah diketahui cara penanganannya, membahayakan kesehatan manusia, menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat, tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi, dan sudah terdapat di suatu area dalam wilayah negara Republik Indonesia. Dengan demikian, toksoplasmosis perlu dipertimbangkan oleh pemerintah untuk ditetapkan sebagai salah satu HPHK.

Kata kunci: HPHK, Toksoplasmosis, Toxoplasma gondii.

.

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Toksoplasmosis merupakan salah satu penyakit zoonotik utama yang tersebar di seluruh dunia dengan tingkat yang beragam. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii, parasit intraseluler yang dapat menyerang manusia dan semua hewan berdarah panas. Manusia atau hewan yang menderita toksoplasmosis tidak menunjukkan tanda klinis yang spesifik dan seringkali tanpa disertai tanda karena penyakit ini bersifat laten. Toksoplasmosis dapat bersifat fatal dan membahayakan jiwa pada individu yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh [1].

Kucing dan hewan golongan Felidae lainnya merupakan inang definitif bagi Toxoplasma gondii, tempat di mana parasit ini memperbanyak diri dan berkembang biak secara seksual. Toxoplasma gondii dapat berkembang secara intraintestinal (di dalam jaringan usus) maupun ekstraintestinal (di luar jaringan usus) dalam tubuh kucing. Perkembangan intraintestinal membentuk stadium hidup yang disebut oosista. Oosista ini dikeluarkan bersama dengan feses yang kemudian berperan sebagai sumber penularan bagi makhluk hidup lainya, seperti tikus, kambing, domba, dan manusia [2].

Kasus toksoplasmosis telah ditemukan di berbagai wilayah atau area di Indonesia baik pada manusia maupun hewan sejak tahun 1970 [3]. Penelitian mengenai toksoplasmosis pada hewan peliharaan seperti kucing [4], hewan ternak seperti sapi dan kerbau [5], kambing [6], dan babi [7] terus dilakukan dari tahun ke tahun. Hal ini membuktikan bahwa toksoplasmosis merupakan penyakit yang mendapat perhatian besar dari akademisi dan peneliti, baik di bidang kedokteran [8] maupun kedokteran hewan [9].

Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis telah menetapkan toksoplasmosis sebagai salah satu dari 22 jenis penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang sudah ada di Indonesia. Berdasarkan peta status dan situasi PHMS tahun 2011-2014 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, beberapa provinsi di Indonesia telah melaporkan adanya kasus toksoplasmosis di wilayahnya [10].

Dalam perspektif karantina hewan, toksoplasmosis tidak ditetapkan sebagai Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), yaitu semua hama dan penyakit hewan yang ditetapkan pemerintah untuk dicegah masuknya ke dalam, tersebarnya di dalam, dan keluarnya dari wilayah negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, media pembawa Toxoplasma gondii yang dilalulintaskan tidak dikenakan tindakan karantina secara spesifik yang bertujuan untuk mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya toksoplasmosis. Hal ini menyebabkan upaya pencegahan toksoplasmosis, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, praktisi, akademisi, maupun masyarakat umum tidak berjalan dengan maksimal.

Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa perlu dan pentingnya toksoplasmosis untuk ditetapkan sebagai salah satu HPHK agar petugas karantina dapat melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya toksoplasmosis di Indonesia.

.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Toxoplasma gondii

Toxoplasma gondii merupakan organisme bersel satu yang hidup sebagai parasit. Toxoplasma berasal dari kata taxon yang berarti cekung dan plasma yang artinya bentuk, sehingga Toxoplasma gondii merupakan organisme berbentuk cekung atau menyerupai bulan sabit [1]. Organisme ini pertama kali ditemukan oleh Nicolle dan Mancaeux pada tahun 1908 dari limpa dan hati suatu binatang pengerat menyerupai hamster yang disebut gondi (Ctenodactylus gondii) di Afrika. Sejak saat itu berbagai penelitian menemukan keberadaan parasit ini pada berbagai hewan [11].

Kehidupan Toxoplasma gondii bergantung pada organisme lain yang disebut inang atau hospes. Terdapat dua jenis inang dalam ilmu parasitologi, yaitu inang definitif dan inang perantara. Inang definitif merupakan organisme tempat suatu parasit hidup dan berkembang biak secara seksual, sedangkan inang perantara adalah organisme tempat parasit hidup dan berkembang biak secara aseksual. Inang definitif Toxoplasma gondii adalah hewan golongan Felidae seperti kucing domestik (Felis catus), sedangkan inang perantaranya adalah semua jenis hewan bedarah panas seperti burung dan mamalia, termasuk manusia [12].

Klasifikasi

Klasifikasi dan taksonomi Toxoplasma gondii adalah sebagai berikut [12,13]: Filum: Apicomplexa; Kelas: Conoidasida; Subkelas: Coccidia; Ordo: Eucoccidiorida; Subordo: Eimeriina; Famili: Sarcocystidae; Genus: Toxoplasma; Spesies: Toxoplasma gondii.

Apicomplexa merupakan kelompok hewan bersel satu yang semuanya bersifat parasit. Organisme anggota filum ini memiliki bentuk tubuh yang khas, di mana salah satu ujungnya berbentuk runcing (apikal) dan ujung lainnya lebih membulat. Anggota filum Apicomplexa menghasilkan spora serta tidak memiliki silia dan flagela sebagai alat gerak, kecuali flagela pada mikrogamet dari beberapa spesies [12].

Anggota filum Apicomplexa terutama subkelas koksidia memiliki siklus hidup yang kompleks, di mana mereka bereplikasi dengan pembelahan ganda (multiple fission) yang juga dikenal dengan istilah skizogoni. Terdapat tiga jenis skizogoni, yaitu merogoni (reproduksi aseksual), gametogoni (reproduksi seksual), dan sporogoni (pembentukan spora), walaupun biasanya skizogoni sering dianggap terbatas pada perkembangan merogoni yang aseksual. Merogoni dan gametogoni berlangsung dalam tubuh inang, sementara sporogoni biasanya berlangsung di luar tubuh [14].

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit subkelas koksidia ini disebut koksidiosis. Beberapa genus yang menyebabkan penyakit penting yaitu Eimeria, Isospora, Cryptosporidium, Hepatozoon, Sarcocystis, dan Toxoplasma [12]. Genus Toxoplasma hanya memiliki satu spesies yaitu Toxoplasma gondii. Spesies ini memiliki stadium hidup yang berbeda dengan Apicomplexa lainnya. Terdapat tiga stadium hidup utama Toxoplasma gondii yaitu takizoit, bradizoit, dan oosista [15].

Takizoit (Yunani: tachy = cepat) merupakan fase pertumbuhan yang berlangsung cepat yang terjadi pada fase infeksi akut, sementara itu bradizoit (Yunani: brady = lambat) yang juga dikenal sebagai fase sista jaringan merupakan fase perkembangbiakan lambat yang menjadi ciri khas infeksi kronis [2]. Oosista adalah fase persisten yang merupakan hasil reproduksi seksual parasit yang terjadi di dalam tubuh inang definitif [16].

Siklus hidup

Toxoplasma gondii mengalami perkembangan secara aseksual di dalam tubuh inang definitif (kucing dan golongan Felidae lainnya) dan perkembangan secara aseksual dalam tubuh inang perantara (mamalia dan burung). Kucing dapat bertindak sebagai inang definitif maupun inang perantara sekaligus. Toxoplasma gondii dalam tubuh kucing dapat berkembang biak secara seksual (fase intraintestinal) maupun secara aseksual (fase ekstraintestinal). Fase intraintestinal atau enteroepitelial ditandai dengan terbentuknya oosista dalam usus inang definitif yang kemudian keluar bersama feses, sementara pada fase ekstraintestinal dapat ditemukan stadium takizoit dan bradizoit pada berbagai sel dan jaringan tubuh. Takizoit dapat menginfeksi semua sel berinti termasuk sel darah putih, sementara bradizoit dapat ditemukan hingga jaringan otot dan otak [2,11,17]. Gambar 1 berikut menunjukkan berbagai stadium hidup Toxoplasma gondii.

Gambar 1. Berbagai stadium hidup Toxoplasma gondii. A: takizoit; B: sista jaringan berukuran kecil yang melapisi bradizoit; C: potongan sista jaringan; D: Oosista yang belum bersporuilasi pada feses kucing [11].

Siklus hidup Toxoplasma gondii pada inang definitif dimulai sejak kucing menelan oosista, takizoit, atau jaringan yang mengandung sista (bradizoit) seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2. Ketiga rute ini memiliki periode prepaten (waktu antara infeksi pertama hingga pengeluaran oosista) yang berbeda-beda. Periode prepaten setelah menelan sista jaringan adalah 3-10 hari, dan lebih dari 18 hari setelah menelan oosista, sementara itu periode prepaten setelah menelan takizoit bervariasi. Jutaan oosista dikeluarkan bersama feses kucing hingga 14 hari pasca ingesti. Kurang dari 50% kucing akan mengeluarkan oosista dalam fesesnya setelah menelan takizoit, namun hampir semua kucing mengeluarkan oosista setelah menelan sista jaringan sehingga dapat dikatakan bahwa fase bradizoit lebih infektif terhadap kucing. Di sisi lain, fase oosista bersifat lebih infektif pada inang perantara seperti tikus [2].

Gambar 2. Siklus hidup Toxoplasma gondii pada kucing [2].

Ingesti satu bradizoit dapat menyebabkan infeksi pada kucing, namun kucing tersebut harus menelan 1.000 oosista untuk dapat menderita toksoplasmosis. Sista jaringan yang mengandung bradizoit akan mengalami perubahan bentuk saat berada dalam tubuh kucing. Bradizoit dapat berubah menjadi takizoit atau menjadi skizon yang bereplikasi secara aseksual (merogoni) di jaringan usus. Skizon berkembang dalam sel epitel usus dalam beberapa siklus sehingga membentuk makrogamet dan mikrogamet yang akan bergabung secara seksual (gametogoni) membentuk zigot atau telur yang dibungkus oleh dinding oosista. Oosista ini lalu dikeluarkan dari usus bersama-sama dengan feses kucing [2].

Oosista merupakan fase hidup parasit di luar tubuh inang yang tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Oosista yang dikeluarkan dari tubuh inang definitif masuk mengalami perkembangbiakan di lingkungan yang disebut sporulasi atau sporogoni. Oosista yang belum bersporulasi berisi satu buah sporoblas, sedangkan oosista yang telah bersporulasi berisi dua sporosista yang masing-masing berisi empat sporozoit. Oosista yang telah bersporulasi ini merupakan stadium infektif, artinya ia berpotensi menyebabkan infeksi apabila masuk ke dalam tubuh inang [11].

Sporulasi terjadi di lingkungan dan prosesnya bergantung pada suhu dan kelembaban [18]. Oosista Toxoplasma gondii dapat hidup hingga lebih dari satu tahun di lingkungan yang gelap dan lembab, sedangkan di lingkungan kering yang terpapar sinar matahari secara langsung, daya tahan hidup oosista lebih singkat [17]. Sporulasi oosista bersifat asinkron, sebagian oosista dapat bersporulasi terlebih dahulu dibandingkan dengan oosista lainnya. Sporulasi dapat terjadi dalam 24 jam pada suhu 25°C, dalam lima hari pada suhu 15°C, dan dalam 21 hari pada suhu 11°C [2]. Oosista yang telah bersporulasi lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dan bahan kimia dibandingkan dengan oosista yang belum bersporulasi [17]. Perbandingan antara oosista yang belum bersporulasi dan yang telah bersporulasi dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Oosista yang belum bersporulasi (kiri) dan telah bersporulasi (kanan) [17].

Inang perantara (seperti manusia) dapat terinfeksi bila menelan oosista infektif atau sista jaringan. Dinding oosista akan hancur setelah berada dalam tubuh inang sehingga sporozoit yang ada di dalamnya akan bebas. Sporozoit akan masuk ke dalam sel epitel usus untuk bereplikasi, beberapa sporozoit dapat ditemukan pada peredaran darah perifer dalam empat jam pasca infeksi, di mana mereka mampu menginfeksi leukosit namun tidak eritrosit. Takizoit terbentuk dalam 12 jam pasca infeksi, dan bradizoit terbentuk dalam enam hari pasca infeksi [2]. Bradizoit atau sista jaringan dapat bertahan seumur hidup dan tidak menimbulkan manifestasi penyakit pada individu sehat dengan sistem kekebalan tubuh yang baik [17]. Keseluruhan siklus hidup Toxoplasma gondii dapat dilihat pada Gambar 4 berikut.

Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah penyakit pada manusia dan hewan berdarah panas yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dengan prevalensi yang bervariasi. Sebagian besar kasus toksoplasmosis tidak tampak dan tidak menunjukkan tanda klinis yang jelas, namun beberapa di antaranya bersifat fatal pada hewan yang baru lahir dan hewan yang mengalami imunokompromais atau penurunan sistem kekebalan tubuh [12].

Kejadian penyakit

Toksoplasmosis telah diteliti dan dilaporkan keberadaannya di Indonesia baik pada manusia maupun hewan sejak tahun 1970-an. Studi yang dilakukan pada dekade ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi toksoplasmosis dengan menggunakan uji hemaglutinasi tidak langsung (indirect haemagglutination). Laporan awal toksoplasmosis di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Penelitian awal toksoplasmosis di Indonesia

Sebuah review toksoplasmosis pada tahun 1991 menyatakan bahwa tingkat seroprevalensi pada manusia sebesar 2-63%, pada kucing 35-73%, pada anjing 75%, pada babi 11-36%, pada kambing 11-61%, dan pada sapi kurang dari 10% [25]. Review pada tahun 1999 menyatakan bahwa toksoplasmosis bersifat endemis di Indonesia dengan seroprevalensi pada kucing 10-40%, kambing 24-61%, domba 43%, babi 28%, sapi 36%, kerbau 27%, ayam 20%, itik 6%, anjing 10%, dan pada manusia 14-82% [26]. Seroprevalensi toksoplasmosis pada kucing secara global adalah 30-40%, sementara itu seroprevalensi di Amerika Serikat berkisar antara 16%-80% [18].

Penularan

Hewan dan manusia dapat terinfeksi melalui dua cara, yaitu secara kongenital dan perolehan. Toksoplasmosis kongenital terjadi saat fetus di dalam uterus tertular dari induknya melalui plasenta, sedangkan toksoplasmosis perolehan terjadi saat inang menelan oosista infektif atau memakan jaringan yang mengandung sista. Keduanya dapat bersifat akut dan kemudian menjadi laten [2,13].

Kucing merupakan hewan yang berperan penting dalam penyebaran toksoplasmosis, karena mereka merupakan inang definitif yang menyebarkan oosista ke lingkungan, namun kasus toksoplasmosis pada kucing pada umumnya tidak menunjukkan tanda yang spesifik dan bersifat subklinis [2]. Infeksi yang terjadi melalui oosista dari kucing kurang berperan menimbulkan toksoplasmosis jika dibandingkan dengan infeksi yang diperoleh melalui daging yang tercemar sista [11].

Manusia dapat terinfeksi karena menelan oosista infektif yang tersebar di air dan tanah, sista jaringan pada daging yang kurang matang, melalui transfusi darah, transplantasi, kecelakaan laboratoris, atau secara kongenital [2]. Penularan pada manusia paling sering terjadi melalui konsumsi daging yang mentah atau kurang matang, terutama daging domba dan babi. Cara penularan lain yang sering terjadi adalah melalui sayuran mentah yang tidak dicuci sebelumnya. Sayuran ini tercemar oosista yang berasal dari tinja kucing [15]. Oosista infektif yang berada di lingkungan juga dapat mencemari air yang dapat menjadi sumber penularan jika diminum oleh manusia atau hewan lain. Oleh karena itu, toksoplasmosis juga dapat ditularkan melalui air sehingga dikategorikan sebagai water-borne disease [2].

Oosista sendiri tidak bersifat infektif pada saat pertama kali dikeluarkan bersama dengan tinja kucing. Ia membutuhkan waktu beberapa hari untuk bersporulasi agar dapat menjadi infektif, sehingga kontak langsung dengan kucing diduga tidak menjadi faktor risiko bagi penularan toksoplasmosis [18]. Cara pemeliharaan kucing di dalam rumah agar tidak memakan rodensia dan burung, tidak memberi makan kucing dengan daging mentah, serta mengontrol populasi inang perantara yang potensial, seperti rodensia dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kucing terpapar Toxoplasma gondii [11].

Toksoplasmosis kongenital terdapat pada 0,25-7 dari setiap 1.000 kelahiran di berbagai negara dan dari sekitar 3.000 bayi yang lahir dengan toksoplasmosis, 5-15% mengalami kematian, 8-10% mengalami gangguan otak dan mata, 10-13% mengalami kerusakan penglihatan yang sedang hingga berat, dan 58-72% secara klinis sehat saat lahir, namun beberapa di antaranya menderita retinokorditis setelah masa anak-anak dan remaja [11].

Tanda klinis

Tanda klinis toksoplasmosis bergantung pada status sistem kekebalan tubuh penderita, di mana infeksi pada inang dengan kekebalan tubuh yang baik biasanya tidak menimbulkan tanda [27]. Infeksi Toxoplasma gondii pada kucing biasanya bersifat subklinis, tanda klinis paling terlihat ditemukan pada anak kucing yang terinfeksi secara kongenital [11]. Tanda umum yang dapat terlihat antara lain demam, anoreksia, letargi, radang pada mata, nyeri pada bagian perut, dan kelainan neurologis [18]. Sebagian besar inang definitif yang mengalami toksoplasmosis juga tidak menunjukkan tanda klinis, kecuali pada kambing dan domba yang dapat menimbulkan gangguan kebuntingan bahkan dapat menyebabkan abortus. Kejadian abortus pada kambing dan domba akibat Toxoplasma gondii ini perlu dibedakan dengan infeksi agen penyakit lain seperti Chlamydophila abortus, Coxiella brunetti, Brucella melitensis, Campylobacter fetus, dan Salmonella spp. [28].

Diagnosis

Toksoplasmosis dapat didiagnosis dengan beberapa metode, baik dengan mendeteksi keberadaan parasit Toxoplasma gondii dalam tubuh maupun dengan mendeteksi dan mengukur titer antibodi spesifik terhadap Toxoplasma gondii dalam serum darah inang.

Deteksi Toxoplasma gondii dalam tubuh inang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis, histopatologis, maupun molekuler. Masing-masing metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Pemeriksaan mikroskopis dengan metode pengapungan merupakan cara yang paling cepat dan sederhana untuk menemukan oosista Toxoplasma gondii pada feses kucing atau pada air yang tercemar. Metode ini memerlukan pemeriksa yang berpengalaman dalam memeriksa sampel feses, selain itu oosista Toxoplasma gondii di bawah mikroskop tidak bisa dibedakan dengan beberapa oosista protozoa lain seperti Bestoinodea, Hammondia, dan Sarcocystis [2,11].

Pemeriksaan histopatologis dapat digunakan untuk mengonfirmasi kematian hewan yang menderita toksoplasmosis akut atau pada kasus abortus, namun metode ini tidak dapat digunakan sebagai uji konfirmasi untuk hewan hidup yang diduga menderita toksoplasmosis. Diagnosis berbasis molekuler untuk mendeteksi DNA Toxoplasma gondii seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan metode yang sangat spesifik dan sensitif, namun membutuhkan biaya mahal dan peralatan khusus.

Uji serologis merupakan pilihan yang paling banyak diminati dalam mendeteksi toksoplasmosis karena dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, namun uji ini hanya mampu mendeteksi keberadaan antibodi, bukan Toxoplasma gondii sebagai agen infeksi penyakit. Akurasi juga menurun pada penderita toksoplasmosis yang mengalami imunokompromais [2]. Beberapa jenis pemeriksaan serologis yang umum digunakan adalah Sabin Feldman Dye Test (SFDT), Latex Agglutination Test (LA), Direct Agglutination Test (DAT), Indirect Hemagglutination Test (IHA), Complement Fixation Test (CFT), Indirect Fluorescence Antibody Test (IFAT), dan Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) [28,29].

Prinsip uji serologis adalah mendeteksi dan/atau mengukur kadar (titer) antibodi anti Toxoplasma gondii, baik imunoglobulin M (IgM) maupun imunoglobulin G (IgG) dalam serum inang. Secara umum, IgM berfungsi untuk mendeteksi fase infeksi akut sedangkan IgG berfungsi untuk mendeteksi fase infeksi kronis. Imunoglobulin G mulai dapat dideteksi dalam darah dalam 2-4 minggu pasca infeksi dan mencapai kadar tertinggi pada 2-4 bulan pasca infeksi. Titer yang tinggi ini bertahan hingga bertahun-tahun. Imunoglobulin M mulai dapat dideteksi dalam darah pada minggu pertama pasca infeksi dan mencapai puncaknya setelah satu bulan. Titer IgM berangsur-angsur turun dan perlahan menghilang pada 4-5 bulan pasca infeksi. Imunoglobulin M dapat menetap selama beberapa bulan lebih lama atau bahkan beberapa tahun setelah infeksi primer. Adanya IgM tidak selalu menunjukkan fase infeksi primer akut. Sebagai alternatif untuk mendeteksi kasus akut, perlu dilakukan pengukuran aviditas IgG. Aviditas IgG menunjukkan hasil yang rendah pada infeksi primer akut, dan makin lama nilainya akan semakin meningkat [30].

Badan Kesehatan Hewan Dunia atau OIE merekomendasikan uji PCR, histopatologis, IFAT, ELISA, dan DAT untuk mengonfirmasi kasus klinis. Kegiatan surveilans untuk mengetahui seroprevalensi penyakit dapat menggunakan uji IFAT, ELISA, dan DAT [28].

Penanganan dan pencegahan

Sulfonamida dan pirimetamin merupakan obat yang digunakan secara luas untuk terapi toksoplasmosis. Keduanya bekerja secara sinergis, di mana mereka masing-masing menghalangi jalur metabolik p-asam aminobenzoat dan siklus folat-asam folinat. Secara umum, semua sulfonamida yang berdifusi melintasi membran sel inang efektif untuk terapi toksoplasmosis, termasuk sulfadiazin, sulfametazin, dan sulfamerazin yang sering digunakan [31].

Pencegahan toksoplasmosis pada kucing dapat dilakukan dengan memelihara kucing di dalam rumah dan tidak membiarkannya memakan tikus atau memberinya daging mentah untuk dimakan. Vaksin komersial untuk mencegah toksoplasmosis pada domba telah tersedia di beberapa negara Eropa dan Selandia Baru [28]. Pencegahan pada manusia dilakukan dengan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang daging yang belum masak. Hal yang sama juga dilakukan dengan semua peralatan dapur yang bersentuhan dengan daging. Daging perlu dimasak hingga mencapai suhu 66°C sebelum dikonsumsi. Wanita hamil sebaiknya menghindari kontak dengan kucing, daging, dan tanah. Kotak pasir sebagai tempat defekasi kucing di rumah perlu dibersihkan setiap hari sebelum oosista bersporulasi dan menjadi infektif [2,32].

.

BAB III
MATERI DAN METODE

Materi dan metode penulisan adalah melakukan studi literatur yang terkait dengan pokok bahasan dan disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalaman kerja di Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

.

BAB IV
PEMBAHASAN

Hama dan Penyakit Hewan Karantina

Sejumlah penyakit hewan memiliki dampak negatif yang serius sehingga pencegahan, pengendalian, dan penanggulangannya diatur secara khusus oleh pemerintah. Dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dikenal istilah Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) yaitu semua hama dan penyakit hewan yang ditetapkan pemerintah untuk dicegah masuknya ke dalam, tersebarnya di dalam, dan keluarnya dari wilayah negara Republik Indonesia.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan mendefinisikan HPHK dengan lebih rinci, yaitu semua hama, hama penyakit, dan penyakit hewan yang berdampak sosioekonomi nasional dan perdagangan internasional serta menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat veteriner yang dapat digolongkan menurut tingkat risikonya. Pasal 75 ayat (1) PP Nomor 82 Tahun 2000 menyebutkan bahwa HPHK digolongkan menjadi HPHK golongan I dan HPHK golongan II berdasarkan daya epidemis dan patogenitas penyakit, dampak sosioekonomi serta status dan situasinya di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia. Adapun definisi HPHK golongan I yaitu HPHK yang mempunyai sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, belum diketahui cara penanganannya, belum terdapat di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia, sedangkan HPHK golongan II adalah HPHK yang potensi penyebarannya berhubungan erat dengan lalu lintas media pembawa, sudah diketahui cara penanganannya dan telah dinyatakan ada di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia.

Pemerintah telah menetapkan jenis-jenis HPHK melalui Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa. Dalam Kepmentan ini telah ditetapkan 65 jenis HPHK golongan I dan 56 jenis HPHK Golongan II (dengan total 121 jenis HPHK) sebagaimana yang dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel 2. Jenis-jenis HPHK golongan I dan golongan II

Kriteria Penetapan HPHK

Berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan dan Kepmentan Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa, terdapat enam kriteria yang digunakan untuk menetapkan suatu hama dan penyakit hewan menjadi HPHK, baik HPHK golongan I maupun HPHK golongan II. Kriteria tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 3. Kriteria penetapan suatu HPHK

Sifat dan potensi penyebaran penyakit

Kriteria pertama berkaitan dengan daya epidemis dan daya patogenitas. Dalam penjelasan Pasal 75 ayat (1) PP Nomor 82 Tahun 2000, disebutkan bahwa daya epidemis adalah daya penyebaran penyakit, sedangkan daya patogenitas adalah kemampuan suatu agen penyakit untuk dapat menimbulkan derajat kesakitan.

Suatu penyakit hewan dapat menular dari hewan ke hewan atau dari hewan ke manusia melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan media perantara. Media perantara ini dapat berupa perantara mekanis seperti air, udara, tanah, dan pakan, atau berupa perantara biologis seperti serangga. Penyakit yang memiliki daya epidemis tinggi dapat menular secara tidak langsung melalui perantara udara seperti virus flu burung [33]. Penyakit ditularkan melalui kontak langsung dengan individu terinfeksi juga memiliki daya epidemis yang cukup tinggi, seperti virus rabies [34] yang menular melalui gigitan hewan terinfeksi.

Toxoplasma gondii sebagai agen penyebab toksoplasmosis dapat menular baik secara kongenital dari induk ke fetus maupun secara perolehan dengan memakan pangan yang mengandung sista jaringan atau stadium oosista infektif di lingkungan. Metode penularan ini membutuhkan periode waktu tertentu dan tidak berlangsung dengan cepat. Toxoplasma gondii juga tidak menimbulkan manifestasi klinis yang spesifik dan berat. Gejala yang dapat timbul dan teramati pada kucing di antaranya yaitu demam, kelemahan umum, dan peradangan pada bagian mata [18]. Kambing dan domba merupakan spesies inang perantara yang dilaporkan dapat mengalami gangguan kebuntingan akibat toksoplasmosis, sedangkan gejala pada mayoritas inang perantara lainnya bersifat subklinis [2]. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toksoplasmosis tidak memiliki sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat.

Cara penanganan

Hewan dan manusia yang didiagnosa menderita toksoplasmosis dapat ditangani dengan pemberian terapi berupa kombinasi sulfonamida dan pirimetamin. Semua sulfonamida yang dapat berdifusi melintasi membran sel inang seperti sulfadiazin, sulfametazin, dan sulfamerazin terbukti efektif untuk terapi toksoplasmosis [31]. Vaksin untuk mencegah toksoplasmosis juga telah tersedia secara komersial. Vaksin aktif yang berisi kultur jaringan stadium takizoit Toxoplasma gondii yang dilemahkan dapat digunakan untuk mencegah toksoplasmosis pada domba di beberapa negara Eropa dan Selandia Baru [28]. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toksoplasmosis sudah diketahui cara penanganannya.

Bahaya bagi kesehatan manusia

Toksoplasmosis merupakan zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Infeksi pada manusia paling sering terjadi melalui konsumsi daging, terutama daging kambing, domba, dan babi, yang tercemar sista Toxoplasma gondii. Penularan melalui oosista dari kucing lebih jarang dilaporkan namun oosista infektif yang dikeluarkan oleh kucing yang sedang berada pada fase akut toksoplasmosis tetap berpotensi untuk menjadi sumber penularan. Oosista tersebut dapat mencemari lingkungan dan mencemari air yang dapat digunakan sebagai sumber air minum bagi manusia [2].

Gejala klinis toksoplasmosis relatif tidak ditemui pada manusia yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Toksoplasmosis dapat menimbulkan bahaya pada ibu hamil dan pada individu dengan kekebalan tubuh yang rendah, seperti penderita AIDS, penderita beberapa jenis kanker, dan pasien transplantasi organ [2]. Jika seorang ibu terinfeksi Toxoplasma gondii untuk pertama kalinya di saat sedang hamil, maka bayi yang dikandungnya berisiko mengalami gangguan kesehatan, mulai dari gangguan pada mata, otak, hingga kematian [11]. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toksoplasmosis berbahaya bagi kesehatan manusia.

Dampak sosial yang meresahkan masyarakat

Parameter keresahan masyarakat cenderung lebih sulit diukur dibandingkan dengan kriteria dan parameter lainnya. Sebagai zoonosis yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada ibu hamil dan fetus yang dikandungnya, toksoplasmosis telah mendapatkan perhatian dari masyarakat, terutama bagi wanita hamil dan wanita yang merencanakan kehamilan. Beberapa rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah menyediakan pengujian TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpesvirus) untuk mendeteksi penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan gangguan kehamilan [35]. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toksoplasmosis dapat menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat.

Kerugian ekonomi yang tinggi

Penyakit hewan yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi biasanya merupakan penyakit pada hewan ternak yang menyebabkan kematian dan/atau penurunan produksi dalam jumlah besar. Kerugian ekonomi yang tinggi juga dapat timbul apabila pemerintah secara khusus mengeluarkan biaya untuk program pengendalian dan penanggulangan penyakit tersebut. Toksoplasmosis bukan merupakan penyakit utama pada hewan ternak dan pemerintah tidak menganggarkan biaya khusus untuk pengendalian dan penanggulangan penyakit ini. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toksoplasmosis tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi.

Terdapat di suatu area dalam wilayah Indonesia

Berbagai penelitian telah melaporkan adanya toksoplasmosis di Indonesia pada berbagai spesies hewan [25,26]. Temuan toksoplasmosis ini tidak hanya dilaporkan berdasarkan pemeriksaan serologis yang mendeteksi antibodi dalam serum darah, namun juga berhasil menemukan parasit Toxoplasma gondii berdasarkan pemeriksaan mikroskopis [36,37,38] dan pengujian berbasis molekuler [39,40]. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa toksoplasmosis telah terdapat di suatu area dalam wilayah Indonesia.

Berdasarkan kriteria HPHK yang telah dibahas di atas, toksoplasmosis merupakan penyakit hewan yang tidak memiliki potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, telah diketahui cara penanganannya, membahayakan kesehatan manusia, menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat, tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi, dan sudah terdapat di suatu area dalam wilayah negara Republik Indonesia. Dengan demikian, toksoplasmosis perlu dipertimbangkan oleh pemerintah untuk ditetapkan sebagai salah satu HPHK.

Penetapan Toksoplasmosis sebagai HPHK

Pasal 75 ayat (2) PP Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan menyebutkan bahwa penggolongan HPHK golongan I dan golongan II serta penetapan jenis hewan yang peka, cara penularan, masa inkubasi, masa pengamatan, masa karantina, standarisasi pengujian dan perlakuan, ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Kepmentan Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 sejak ditetapkan hingga tahun 2017 ini telah berlaku selama delapan tahun. Apabila pemerintah hendak memperbarui Kepmentan ini, maka toksoplasmosis perlu dipertimbangkan untuk ditetapkan sebagai HPHK dengan rincian atau uraian sebagaimana yang dicantumkan dalam Tabel 4 berikut ini.
.

Tabel 4. Rincian penetapan toksoplasmosis sebagai HPHK

Apabila ditetapkan sebagai HPHK, karakteristik toksoplasmosis di Indonesia sesuai dengan definisi HPHK Golongan II dalam Pasal 1 angka 16 PP Nomor 82 Tahun 2000. tentang Karantina Hewan. Toksoplasmosis adalah HPHK yang potensi penyebarannya berhubungan erat dengan lalu lintas media pembawa (kucing), sudah diketahui cara penanganannya (terapi antibiotika) dan telah dinyatakan ada di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia (konfirmasi kasus secara laboratoris), sehingga toksoplasmosis perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam daftar HPHK Golongan II pada pembaruan Keputusan Menteri Pertanian mengenai penetapan jenis-jenis HPHK.

.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Berdasarkan kriteria penetapan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), toksoplasmosis merupakan penyakit hewan yang:
(a) Tidak memiliki potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat;
(b) Telah diketahui cara penanganannya;
(c) Membahayakan kesehatan manusia;
(d) Menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat;
(e) Tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi; dan
(f) Sudah terdapat di suatu area dalam wilayah negara Republik Indonesia.

2. Toksoplasmosis perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam daftar HPHK Golongan II pada pembaruan Keputusan Menteri Pertanian mengenai penetapan jenis-jenis HPHK.

Saran

Toksoplasmosis perlu dipertimbangkan oleh pemerintah untuk ditetapkan sebagai salah satu Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK).

.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Nurcahyo, R.W. 2012. Toksoplasmosis pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta: Samudra Biru.
[2] Dubey, J.P. 2010. Toxoplasmosis of Animals and Humans, second edition. New York: CRC Press.
[3] Yamamoto, M., Tokuchi, M., Hotta, S., dan Noerjasin, B. 1970. A survey of anti-toxoplasma hemagglutinating antibodies in sera from residents and certain species of animals in Surabaja, Indonesia. Kobe J. of Med. Sci. 16(4):273-280.
[4] Hanafiah, M., Nurcahyo, W., Purnomo, J., dan Hartati, S. 2015. Faktor Risiko Infeksi Toxoplasma gondii pada Kucing Domestik yang Dipelihara di Yogyakarta. J. Kedokteran Hewan 9(1):55-58.
[5] Simanjuntak, G.M., Margono, S.S., Iskandar, T., Windi, C., Hutabarat, T., dan Gunawan, I.M. 1998. Survei antibodi Toxoplasma gondii pada manusia dan hewan di beberapa daerah di Sumatera Utara. Maj. Parasitol. Ind. 11(1):19-25.
[6] Iskandar, T., Partoutomo, S., Beriajaya, dan Pratomo, H.W. 1996. Studi toxoplasmosis pada domba dan kambing di RPH Jakarta. Pros. Temu Ilmiah Nasional Bidang Veteriner. Balitvet, Bogor. Hal. 205-208.
[7] Inoue, I., Leow, C.S., Husin, D., Matsuo, K., dan Darmani, P. 2001. A Survey of Toxoplasma gondii antibodies in Pigs in Indonesia. Southeast Asian J. Trop Med. Public Health 32(1):38-40.
[8] Dharmana, E. 2007. Toxoplasma gondii Musuh dalam Selimut. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
[9] Hartati, S. 2011. Toksoplasmosis pada Kucing dan Implikasinya terhadap Kesehatan Masyarakat. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
[10] Anonim, 2015. Peta Status dan Situasi Penyakit Hewan Menular Strategis 2011-2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
[11] Weiss, L.M. dan Kim, K. 2007. Toxoplasma gondii: The Model Apicomplexan. New York: Academic Press.
[12] Levine, N.D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner, diterjemahkan oleh Gatut Ashadi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[13] Soulsby, E.J.L. 1982. Helminth, Arthropods, and Protozoa of Domesticated Animals, 7th edition. London: Bailliere Tindall.
[14] Tanada, Y. Dan Kaya, H.K. 1993. Insect Pathology. Gulf Professional Publishing.
[15] Frenkel, J.K. 1974. Advances in the Biology of Sporozoa. Z. Parasitenk. 45:125-162.
[16] Mehlhorn, L. 2001. Encyclopedic Reference of Veterinary Parasitology, diterjemahkan oleh Gatut Ashadi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[17] Bowman, D.D., Hendrix, C.M., Lindsay, D.S., dan Barr, S.C. 2002. Feline Clinical Parasitology. Iowa: Iowa State University Press. Hal. 14-25.
[18] Dubey, J.P. dan Beattie, C.P. 1998. Toxoplasmosis of Animals and Man. Florida: CRC Press.
[19] Clarke, M.D. 1973. Human malarias and intestinal parasites in Kresek, West Java, Indonesia, with a cursory serological survey for toxoplasmosis and amoebiasis. Southeast Asian J. of Trop. Med. and Pub. Health 4(1):32-36.
[20] Clarke, M.D. 1973. A parasitological survey in the Jogjakarta area of Central Java, Indonesia. Southeast Asian J. of Trop. Med. and Pub. Health 4(2):195-201.
[21] Koesharjono, C., Van Peenen, P.F.D., Joseph, S.W., Saroso, S., Irving, C.S., dan Durfee, P.T. 1973. Serological Survey of Pigs from a Slaughterhouse in Jakarta, Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan 1(1).
[22] Cross, J.H., Irving, G.S., dan Gunawan, S. 1975. The prevalence of entamoeba histolytica and Toxoplasma gondii antibodies in Central Java, Indonesia. Southeast Asian J. of Trop. Med. and Pub. Health 6(4):467-471.
[23] Durfee, P.T., Cross, J.H., Rustam, dan Susanto. 1976. Toxoplasmosis in Man and Animals in South Kalimantan (Borneo), Indonesia. The American Soc. of Trop. Med. and Hyg. 25(1): 42-47.
[24] Gandahusada, S. 1978. Serological Study for Antibodies to Toxoplasma gondii in Jakarta, Indonesia. Southeast Asian J. of Trop. Med. and Pub. Health 9(3):308-311.
[25] Gandahusada, S. 1991. Study on the Prevalence of Toxoplasmosis in Indonesia: A Review. Asian J. of Trop. Med. and Pub. Health 22:93-98.
[26] Iskandar, T. 1991. Tinjauan tentang Toksoplasmosis pada Hewan dan Manusia. Wartazoa 8(2):58-63.
[27] Montoya, J.G. dan Remington, J.S. 2001. Toxoplasma gondii, Current Diagnosis and Treatment. New York: McGraw Hill Medical Publishing.
[28] OIE. 2017. Toxoplasmosis dalam OIE Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals. http://www.oie.int/international-standard-setting/terrestrial-manual/access-online/ [Diakses pada 24 Mei 2017].
[29] Hiswani, 2001. Toxoplasmosis Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai oleh Ibu Hamil. Majalah Kesehatan FK USU. Medan: Universitas Sumatera Utara.
[30] Sujono, 2010. Seroprevalensi Toksoplasmosis dan Faktor-Faktor Risiko di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Metode ELISA Menggunakan Protein Rekombinan GRA-1 Takizoit Toxoplasma gondii Isolat Lokal. Tesis Program Studi Ilmu Kedokteran Tropis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
[31] Eyles, D.E., dan Coleman, N. 1953. Antibiotics in the Treatment of Toxoplasmosis. Am. J. Trop. Med. Hyg. 2:64-69.
[32] Shapiro, L.S. 2010. Pathology and Parasitology for Veterinary Technicians, second edition. New York: Delmar Cengage Learning. Hal. 118.
[33] Saif, Y.M. 2008. Diseases of Poulty, 12th edition. Iowa: Blackwell Publishing.
[34] OIE. 2013. Rabies (Infection with Rabies Viruses) dalam OIE Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals. http://www.oie.int/international-standard-setting/terrestrial-manual/access-online/ [Diakses pada 24 Mei 2017].
[35] Juanda, H.A. 2006. TORCH Akibat dan Solusinya. Solo: Wangsa Jaya Lestari.
[36] Manik, A.M., Oka, I.B.M., dan Dwinata, I.M. 2013. Bioassay Toxoplasma gondii pada Kucing. Indonesia Medicus Veterinus 2(1):12-31.
[37] Simamora, A.T.A.J., Suratma, N.A., dan Apsari, I.A.P. 2015. Isolasi dan Identifikasi Oosista Toxoplasma gondii pada Feses Kucing dengan Metode Pengapungan Gula Sheater. Indonesia Medicus Veterinus 4(2):88-96.
[38] Setia, L. 2015. Gambaran Infeksi Toxoplasma gondii pada Tinja Kucing Peliharaan di Wilayah Komplek Kelapa Sawit. J. Ergasterio 3(1).
[39] Subekti, D.T., Artama, W.T., dan Iskandar, T. 2005. Perkembangan Kasus dan Teknologi Diagnosis Toksoplasmosis. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 253-264.
[40] Hartati, S., Kusumawati, A., Widodo, H., dan Widodo, D.P. 2014. Kandidat Probe DNA dari Urutan Repetitif R529 untuk Deteksi Toxoplasma gondii. J. Kedokteran Hewan 8(2):124-129.

Comments

comments

Kategori: ARTIKEL