Kendari – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian melepas Sertifikat Kesehatan Tumbuhan atau Phyosanitary Certificate, PC Butter Cocoa sebanyak 80 ton ke Belanda. Pelepasan ekspor ini merupakan yang perdana diberangkatkan dari Pelabuhan Newport Bungkutoko, Kendari. “Dengan fasilitas pelabuhan yang lengkap, kini Kendari bisa langsung kirim komoditas produk pertanian unggulannya ke Belanda, selamat ,” kata Agus Sunanto, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Barantan saat melepas ekspor di pelabuhan Bungkutoko, Kendari, Senin (11/3).

Agus menjelaskan bahwa selama empat tahun terakhir, melakukan berbagai kebijakan dalam mendukung ekspor dan impor produk dengan standar mutu. Salah satunya adalah dengan kebijakan standar internasional, yakni mengembangkan Implementing Arrangement for The Exchange of Electronic Certification. e-Cert Quarantine atau sertifikat karantina secara online yang diberlakukan untuk negara mitra dagang,

Saat ini, baru 3 negara mitra dagang yang dapat melakukan pertukaran data melalui e-Cert yakni Australia, New Zealand dan Belanda. Kedepan proses sertifikasi karantina untuk tujuan ekspor Belanda dapat menggunakan fasilitas ini, tambah Agus.

Kepala Karantina Pertanian Kendari, Mastari memaparkan bahwa nilai ekspor komoditas olahan produk pertanian unggulan asal Kendari yang kali ini diekspor setara dengan Rp. 8,117 milyar. Dari data lalulintas ekspor produk pertanian melalui wilayah kerjanya sepanjang tahun 2018, adalah 360 ton setara dengan nilai Rp 36, 5 milyar dengan 4 kali frekuensi. Komoditas jahe segar juga merupakan komoditas yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Bungkutoko. Tercatat di bulan Mei 2018, sebanyak 20 ton jahe dengan nilai 17.550 USD di ekspor ke Taiwan, jelas Mastari.

Pada saat yang sama, Gubernur Sulawesi Tenggara, H. Ali Mazi yang hadir untuk lakukan pelepasan ekspor langsung secara perdana dari Pelabuhan Bungkutoko ini menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Pertanian khususnya Barantan melakui Karantina Pertanian Kendari atas fasilitasi ekspor produk olahan asal Kendari. Kedepan Gubernur berharap terjadi kerjasama seluruh pemangku kepentingan termasuk petani dan pelaku usaha untuk mendongkak ekspor. Selain itu juga Gubernur berharap akan adanya penambahan negara mitra dagang potensial lain, karena Provinsi Sulawesi Tenggara khususnya Kendari masih memiliki banyak potensi komoditas lokal.

Agus Sunanto yang hadir mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian menyampaikan bahwa Barantan adalah pembuka akses ekspor melalui protokol karantina pertanian dan penjaminan kesehatan atau bebas organisme pengganggu tumbuhan karantina dengan penerbitan Phytosanitary Certificate (Sertifikat kesehatan komoditas ekspor). “Kami menargetkan akselerasi ekspor bisa meningkat sebesar 200%, dan upaya kolaboratif dengan semua pihak segera kita realisasikan,” tukas Agus.

Turut hadir menyaksikan acara pelepasan ekspor ini, Ketua DPRD Sultra, Kepala BIN Daerah Sultra, Kapolda Sultra, Danrem Haluoleo, DanLanud Haluoleo, DanLanal Kendari, instansi terkait dan generasi milenial dari Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, SMK Wawotobi dan SMK 7 Konawe Selatan.

#LaporKarantina🍎🐈
#KarantinaKendari

Comments

comments